Modul Belajar

Modul 2: Sejarah Tenun Sumbawa

Durasi: 10 menit

Materi Pembelajaran

Sejarah Awal Tenun Sumbawa

Tenun merupakan salah satu bentuk kerajinan tradisional yang telah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Sumbawa dan menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya lokal. Sejak masa awal, masyarakat telah mengenal teknik pengolahan serat alam menjadi benang dan kain sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan sandang. Kegiatan ini berkembang secara alami seiring dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Dalam konteks budaya Nusantara, tradisi menenun termasuk salah satu bentuk pengetahuan lokal yang telah berkembang sejak masa awal peradaban manusia (Koentjaraningrat, 2009).

Pada tahap awal, proses menenun dilakukan secara sederhana dengan menggunakan bahan utama berupa kapas yang dipintal menjadi benang. Benang tersebut dikenal dengan istilah “bara”, yaitu benang yang dihasilkan dari proses pemintalan kapas secara manual hingga siap digunakan. Selain itu, pewarnaan benang dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami seperti daun, akar, dan kulit kayu, yang menghasilkan warna-warna khas dengan nilai estetika tinggi. Teknik ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara manusia dan alam dalam proses produksi tenun tradisional.

Kegiatan menenun pada masa awal tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan sandang, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual yang mendalam. Proses menenun dilakukan dengan penuh ketelitian dan kesabaran, serta sering dikaitkan dengan nilai-nilai kehidupan seperti ketekunan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Kain yang dihasilkan tidak hanya digunakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga sebagai simbol status sosial dan bagian penting dalam berbagai upacara adat masyarakat Sumbawa .

Tradisi menenun kemudian diwariskan secara turun-temurun melalui lingkungan keluarga, terutama oleh perempuan sebagai pelaku utama. Anak-anak perempuan biasanya mulai belajar menenun sejak usia remaja melalui bimbingan ibu atau anggota keluarga lainnya. Proses ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer keterampilan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda. Dengan demikian, tenun menjadi bagian integral dari sistem sosial dan budaya masyarakat Sumbawa .

Kronologis Historis Kain Tenun Sumbawa

Akar Prasejarah dan Tradisi Awal

Jejak menenun di Pulau Sumbawa dapat ditarik hingga zaman Neolitikum. Pada periode ini, masyarakat mulai beralih dari pola hidup mengembara menjadi menetap, yang memungkinkan kaum perempuan mengembangkan keterampilan mengolah serat alam menjadi pakaian.

Benang pertama yang digunakan adalah Baraq, yaitu benang kasar hasil pintalan tangan dari kapas lokal (pisar). Penggunaan alat tenun sederhana yang dikenal sebagai Gedog telah dimulai sejak masa ini, di mana penenun duduk selonjor untuk menjaga ketegangan benang lungsi. 

Pengaruh Hindu-Majapahit (Abad ke-14 - ke-16)

Sebelum masuknya pengaruh Islam yang kuat, wilayah Sumbawa berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Hal ini meninggalkan jejak pada motif-motif kain yang bersifat teologis-sentris.

Era Kesultanan dan Masa Keemasan (1648 - 1880-an)

Berdirinya Kesultanan Sumbawa secara resmi pada 30 November 1648 membawa transformasi fungsi kain dari sekadar pelindung tubuh menjadi simbol strata sosial dan instrumen diplomasi.

Lahirnya Kre Alang dan Kre Sesek: Melalui perdagangan dengan pedagang Arab, India, dan Tiongkok, benang emas dan sutera mulai masuk ke Sumbawa. Hal ini melahirkan Kre Alang (songket Sumbawa) yang dicirikan dengan penggunaan benang emas di atas dasar kain.

Kere Alang Maraja Sangaji (1790)
Salah satu artefak tekstil terpenting yang dibuat sebagai tanda pernikahan agung antara Sultan Bima, Abdul Hamid, dengan Sultanah Sumbawa, Shafiatuddin. Kain ini menjadi bukti tertua penggunaan motif naga (Sumbawa) dan garuda (Bima) secara berdampingan.

Pusat Produksi Istana
Pada masa Sultan Muhammad Jalaluddin III (1883-1931), salah satu ruangan di Istana Dalam Loka dijadikan pusat khusus untuk memproduksi kain tenun bagi keluarga bangsawan.

Periode Kolonial dan Krisis Sandang (1888 - 1945)

Masuknya kekuatan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang membawa dampak drastis pada ketersediaan material dan aktivitas menenun.

Dominasi Benang Impor (1888)
Berdirinya perusahaan pelayaran Belanda, KPM, mempermudah masuknya benang pabrikan, yang secara perlahan mulai menggeser penggunaan kapas pintal tangan (baraq) di pusat-pusat kota.

Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
Ini merupakan masa kelam bagi tradisi kain Sumbawa. Jepang menyita banyak persediaan pakaian dan benang untuk kepentingan perang. Rakyat Sumbawa mengalami krisis sandang parah hingga terpaksa menggunakan bahan kain bekas, gombal, atau karung goni (karung goni).

Transisi ke Era Republik dan Pelestarian (1950 - Sekarang)

Setelah Sultan Muhammad Kaharuddin III membawa Sumbawa bergabung dengan NKRI pada tahun 1950, tradisi menenun bergeser dari lingkungan istana ke industri rumah tangga di desa-desa.

Warisan Budaya Takbenda (2021)

Pemerintah melalui Kemendikbudristek menetapkan Kere Alang sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, mengukuhkan posisinya sebagai identitas budaya nasional yang harus dilindungi secara hukum. 19

Perkembangan Tenun Sumbawa di Masa Modern

Perkembangan  tenun Sumbawa mengalami dinamika yang cukup signifikan seiring dengan perubahan zaman. Pada masa tertentu, tradisi menenun mengalami kemajuan yang pesat karena menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Namun, memasuki era modern, kegiatan menenun mulai mengalami penurunan akibat pengaruh globalisasi dan masuknya produk tekstil pabrikan yang lebih praktis dan murah. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk melanjutkan tradisi menenun .

Penurunan tersebut menjadi tantangan serius dalam pelestarian budaya tenun Sumbawa. Selain faktor ekonomi, perubahan gaya hidup masyarakat juga turut mempengaruhi keberlangsungan tradisi ini. Kegiatan menenun yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesabaran dianggap kurang sesuai dengan tuntutan kehidupan modern yang serba cepat. Akibatnya, jumlah penenun tradisional semakin berkurang dan pengetahuan tentang teknik serta makna tenun berisiko hilang.

Namun, sekitar tahun 1983, tradisi menenun mulai bangkit kembali berkat inisiatif pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Salah satu tokoh penting dalam kebangkitan tenun Sumbawa adalah Ibu Rasia Majid, yang berperan aktif dalam mengajarkan kembali teknik menenun kepada masyarakat, khususnya perempuan. Melalui berbagai program pelatihan dan pembinaan, kegiatan menenun kembali diperkenalkan dan dikembangkan sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk kembali melestarikannya .

Seiring dengan kebangkitan tersebut, tenun Sumbawa mengalami perkembangan baik dari segi teknik, bahan, maupun pemasaran. Penggunaan benang modern seperti rayon dan sintetis mulai diperkenalkan untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk. Selain itu, promosi melalui pameran budaya dan dukungan pemerintah turut meningkatkan popularitas tenun Sumbawa hingga dikenal secara nasional. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tradisi tenun dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budayanya.

Kre Sesek dalam Kehidupan Masyarakat

Kre Sesek sebagai salah satu bentuk tenun khas Sumbawa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kain ini tidak hanya digunakan sebagai kebutuhan sandang, tetapi juga menjadi bagian integral dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya. Dalam kehidupan adat, Kre Sesek digunakan dalam berbagai upacara seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan keagamaan, sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari tradisi masyarakat Sumbawa .

Selain sebagai bagian dari tradisi, Kre Sesek juga berfungsi sebagai simbol identitas budaya masyarakat Sumbawa. Setiap motif yang terdapat pada kain tenun memiliki makna filosofis yang mendalam dan tidak dibuat secara sembarangan. Motif-motif tersebut umumnya terinspirasi dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan lingkungan sekitar, yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan seperti kebersamaan, kekuatan, dan keimanan. Dalam perspektif budaya, kain tenun dapat dipahami sebagai media komunikasi simbolik yang menyampaikan nilai dan identitas masyarakat (Geertz, 1973).

Dalam aspek ekonomi, Kre Sesek memiliki nilai yang cukup tinggi dan menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat. Banyak keluarga yang menjadikan kegiatan menenun sebagai usaha sampingan maupun utama untuk meningkatkan kesejahteraan. Seiring dengan perkembangan industri kreatif, produk Kre Sesek tidak hanya digunakan sebagai pakaian adat, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk modern seperti tas, aksesoris, dan dekorasi.

Di era modern, Kre Sesek juga menghadapi berbagai tantangan, seperti menurunnya minat generasi muda dan kurangnya dokumentasi budaya secara sistematis. Namun, perkembangan teknologi digital memberikan peluang baru dalam pelestarian budaya. Melalui platform pembelajaran digital seperti Edu Budaya Samawanesia, informasi tentang Kre Sesek dapat disebarluaskan secara lebih luas dan menarik bagi generasi muda. Dengan demikian, Kre Sesek tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat modern 

Ringkasan Modul

Tantangan Pelestarian Kre Sesek

Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, pelestarian Kre Sesek menghadapi berbagai tantangan di era modern. Salah satu tantangan utama adalah menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melanjutkan tradisi menenun. Banyak anak muda yang lebih tertarik pada pekerjaan modern dibandingkan mempelajari keterampilan tradisional yang membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi.

Selain itu, kurangnya dokumentasi dan media pembelajaran yang sistematis juga menjadi kendala dalam pelestarian budaya ini. Pengetahuan tentang teknik menenun dan makna motif masih banyak yang tersimpan secara lisan, sehingga berisiko hilang jika tidak segera didokumentasikan.

Persaingan dengan produk tekstil modern juga menjadi tantangan tersendiri. Produk pabrikan yang lebih murah dan mudah didapat membuat tenun tradisional kurang diminati di pasar. Hal ini berdampak pada menurunnya jumlah penenun aktif.

Upaya Pelestarian dan Pengembangan

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, diperlukan upaya pelestarian yang terencana dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pendidikan, yaitu dengan memasukkan materi tentang Kre Sesek ke dalam pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, generasi muda dapat mengenal dan memahami budaya lokal sejak dini.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi solusi yang efektif. Melalui platform e-learning seperti Edu Budaya Samawanesia, informasi tentang Kre Sesek dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas. Platform ini menyediakan materi pembelajaran, video tutorial, serta dokumentasi budaya yang menarik dan interaktif.

Pemberdayaan perempuan penenun juga menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya. Dengan memberikan pelatihan dan akses terhadap teknologi, perempuan dapat berperan sebagai narasumber dan pelaku utama dalam penyebaran pengetahuan tentang Kre Sesek.Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas budaya, dan masyarakat juga sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini. Dengan kerja sama yang baik, Kre Sesek dapat terus berkembang dan tetap relevan di era modern.