Modul Belajar

Modul 6: Proses Pembuatan

Durasi: 3 menit

Materi Pembelajaran

Proses Pembuatan Tenun Kre Sesek

Proses pembuatan Kre Sesek terdiri dari beberapa tahap yang cukup panjang dan membutuhkan ketelitian tinggi. Berikut tahapan utamanya:

  1. Persiapan Benang

Benang yang digunakan dipilih sesuai dengan jenis kain yang akan dibuat. Benang bisa berupa benang rayon, katun, atau benang hias seperti benang emas. Adapun benang yang digunakan meliputi :

Benang metalik (Metalic Yarn) merek Lunarex (Warna emas dan perak)

 

Gambar 32: Benang metalik

Benang Suji atau yang sering disebut sebagai benang hias merupakan salah satu elemen penting dalam proses pembuatan tenun Kre Sesek, khususnya pada jenis Kre Alang/Sesek Sasir. Benang ini memiliki fungsi utama sebagai pembentuk motif, seperti motif Kemang Satange, Lonto Engal, dan berbagai ragam hias lainnya yang menjadi ciri khas tenun Sumbawa. Secara fisik, benang suji memiliki tekstur yang lebih kaku dan kuat dibandingkan benang biasa, sehingga mampu mempertahankan bentuk motif dengan lebih jelas dan tegas. Dalam proses penenunan, benang ini dimasukkan secara khusus pada bagian-bagian tertentu sesuai dengan pola yang telah dirancang, sehingga menghasilkan motif yang indah dan bernilai estetika tinggi.

Secara teknis, penggunaan benang suji membutuhkan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari penenun, karena proses penyisipannya tidak dilakukan secara terus-menerus seperti benang pakan biasa, melainkan hanya pada bagian tertentu sesuai motif. Hal ini menjadikan proses pembuatan Kre Sesek Sasir lebih kompleks dan memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan jenis tenun lainnya. Karena sifatnya yang kaku dan fungsinya yang khusus sebagai pembentuk motif, benang suji tidak digunakan dalam pembuatan Kre Cepa’ atau Bakal Lamung yang lebih mengutamakan struktur dasar kain tanpa ornamen hias yang menonjol.

  1. Benang Kristal Cap Elang Mas ( Warna silver/Putoih Kristal)

 

Gambar 33: Benang Kristal Cap Elang Emas

Benang ini digunakan sebagai benang pakan tambahan dalam proses penenunan Kre Sesek Sasir, khususnya untuk menciptakan efek kilau pada motif yang dihasilkan. Berbeda dengan benang pakan biasa, benang ini memiliki karakteristik khusus berupa kualitas kristal yang mampu memantulkan cahaya dengan lebih tajam dan berkilau. Efek kilau tersebut memberikan dimensi visual yang lebih hidup pada kain, sehingga motif terlihat lebih menonjol, elegan, dan bernilai tinggi. Dalam praktiknya, benang ini disisipkan secara selektif pada bagian-bagian tertentu dari motif, sehingga menghasilkan perpaduan antara struktur dasar kain dan ornamen hias yang memikat.

Secara teknis, penggunaan benang bertekstur kristal ini memerlukan ketelitian dan keahlian khusus dari penenun. Hal ini dikarenakan sifat benangnya yang berbeda dari benang biasa, baik dari segi kekakuan maupun pantulan cahaya yang dihasilkan. Penenun harus mampu menentukan posisi yang tepat agar efek kilau tidak berlebihan, tetapi justru memperkuat keindahan motif secara keseluruhan. Dibandingkan dengan benang metalik biasa, kualitas kristal pada benang ini memberikan efek cahaya yang lebih tajam, jernih, dan tahan lama, sehingga meningkatkan nilai estetika dan kualitas kain tenun.

  1. Benang jahit sintetis merek yamalon dan Putra 

Gambar 34: Benang Jahit Sintetis Yamalon dan Putra

Benang jahit berbahan katun atau polyester merupakan komponen utama yang digunakan dalam proses penenunan sebagai pembentuk struktur dasar kain. Benang ini berfungsi sebagai benang pakan maupun bagian dari sistem benang yang menyusun keseluruhan kain, sehingga menentukan kekuatan, kerapatan, dan kenyamanan hasil tenunan. Secara karakteristik, benang katun dikenal memiliki tekstur yang lembut, menyerap keringat, dan nyaman digunakan, sedangkan benang polyester memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, daya tahan, serta tidak mudah rusak. Kombinasi penggunaan kedua jenis benang ini menghasilkan kain yang tidak hanya kuat dan tahan lama, tetapi juga tetap lembut saat digunakan.

Secara teknis, benang ini menjadi elemen dasar dalam membangun struktur kain sebelum ditambahkan motif atau hiasan seperti benang suji. Kualitas benang yang digunakan sangat mempengaruhi hasil akhir tenunan, baik dari segi kekuatan maupun kerapian. Penenun harus memilih jenis benang yang sesuai dengan kebutuhan kain, serta menjaga ketegangan dan susunan benang agar tetap konsisten selama proses penenunan berlangsung. Dengan demikian, benang katun atau polyester menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas keseluruhan kain tenun.

  1. Benang sintetis warna solid

Gambar 35: Benang Sintetis Warna Solid

 Benang ini merupakan benang dasar yang berfungsi sebagai pembentuk utama struktur kain, baik sebagai benang lungsin (benang vertikal) maupun benang pakan dasar (benang horizontal). Dalam proses penenunan, benang ini menjadi fondasi yang menentukan bentuk, kekuatan, serta karakter dasar kain sebelum ditambahkan unsur hias atau motif tertentu. Pengolahan benang ini dapat menghasilkan berbagai jenis kain tenun Sumbawa, tergantung pada teknik dan pola yang digunakan oleh penenun. Apabila benang ini ditenun secara polos atau dengan tambahan motif timbul yang memiliki warna senada, maka akan menghasilkan jenis kain yang dikenal sebagai Bakal Lamung, yang umumnya digunakan sebagai bahan pakaian adat atau sarung.

Selanjutnya, apabila benang yang sama diolah dengan teknik pewarnaan yang bervariasi dan disusun membentuk pola kotak-kotak tanpa menggunakan benang emas atau benang hias lainnya, maka akan menghasilkan kain yang disebut Kre Cepa’. Kre Cepa’ memiliki ciri khas pada permainan warna yang sederhana namun menarik, serta lebih bersifat fungsional untuk penggunaan sehari-hari. Sementara itu, dalam pembuatan Kre Sesek Sasir yang memiliki motif lebih kompleks dan dihiasi dengan benang suji atau benang hias, benang dasar ini tetap berperan sebagai latar belakang warna. Keberadaannya menjadi dasar yang memperkuat tampilan motif, sehingga hiasan yang ditambahkan tampak lebih menonjol dan harmonis.

 

  1. Benang Space-Dyed atau Benang Warna Gradasi

Gambar 36: Benang Space-Dyed

Benang dengan gradasi warna merupakan jenis benang yang memiliki perpaduan beberapa warna dalam satu helai, sehingga mampu menciptakan efek visual yang dinamis dan menarik pada kain tenun. Dalam praktik penenunan Sumbawa, benang ini umumnya digunakan pada pembuatan Kre Cepa’ untuk menghasilkan tampilan yang lebih modern dan variatif. Perpaduan warna yang berubah secara bertahap memberikan kesan hidup dan tidak monoton, sehingga kain terlihat lebih segar dan sesuai dengan selera masa kini. Selain itu, benang gradasi juga sering dimanfaatkan untuk membentuk motif garis pada Bakal Lamung, yang memberikan aksen visual tanpa menghilangkan kesan sederhana dan elegan dari kain tersebut.

Secara teknis, penggunaan benang gradasi membutuhkan perencanaan yang cermat, terutama dalam penempatan dan komposisi warna agar menghasilkan pola yang harmonis. Penenun harus memahami bagaimana perubahan warna pada benang akan muncul dalam struktur kain, sehingga efek visual yang dihasilkan sesuai dengan desain yang diinginkan. Meskipun memberikan keindahan tersendiri, benang ini jarang digunakan sebagai benang dasar dalam Kre Sesek Sasir. Hal ini disebabkan oleh karakter motif Kre Sesek yang sudah sangat kompleks dan kaya akan hiasan, terutama dengan penggunaan benang emas atau benang suji. Jika dipadukan dengan benang gradasi, maka akan terjadi “tabrakan visual” yang dapat mengurangi kejelasan dan keindahan motif utama.

  1. Pengaturan Benang (Menghani) 

Gambar 37: Pengaturan Benang

Tahap pengaturan benang atau yang dikenal dengan istilah menghani merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses menenun. Pada tahap ini, benang lungsin (benang vertikal) disusun secara sejajar dan teratur sesuai dengan panjang serta lebar kain yang akan dibuat. Penyusunan benang dilakukan dengan menggunakan alat bantu tertentu agar setiap helai benang memiliki posisi yang tepat dan tidak saling bertumpuk atau kusut.

Proses menghani membutuhkan ketelitian tinggi karena susunan benang lungsin akan menjadi dasar dari seluruh struktur kain. Jika pada tahap ini terjadi kesalahan, maka akan berdampak pada hasil akhir tenunan, baik dari segi kerapian, kekuatan, maupun keindahan motif. Oleh karena itu, penenun harus memastikan bahwa setiap benang tersusun dengan rapi dan memiliki tegangan yang seimbang sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Tahap ini juga mencerminkan pentingnya perencanaan yang matang dalam setiap pekerjaan.

 

  1. Pembuatan Motif

Gambar 38 : Pembuatan Motif

Setelah benang lungsin tersusun dengan baik, tahap selanjutnya adalah pembuatan motif. Pada tahap ini, penenun mulai membentuk pola hias pada kain dengan menggunakan alat bantu seperti karatung (senganak) dan tolang gurin. Karatung digunakan untuk mengangkat benang lungsin tertentu sesuai dengan hitungan pola, sedangkan tolang gurin digunakan untuk pekerjaan yang lebih detail, terutama pada motif-motif kecil atau rumit.

Proses ini memerlukan konsentrasi, ketelitian, dan pemahaman pola yang baik, karena setiap kesalahan dalam mengangkat benang akan mempengaruhi bentuk motif yang dihasilkan. Motif yang dibuat tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sumbawa. Oleh karena itu, tahap ini menjadi salah satu bagian yang paling penting dan membutuhkan keterampilan khusus dalam proses menenun.

 

  1. Proses Menenun

Gambar 39 : Proses menenun

Tahap menenun merupakan inti dari keseluruhan proses pembuatan kain. Pada tahap ini, benang pakan (benang horizontal) dimasukkan ke dalam sela-sela benang lungsin menggunakan alat yang disebut peletek atau teropong. Setelah benang pakan masuk, penenun kemudian merapatkannya menggunakan alat balida, baik Balida Rea maupun Balida Ode, sesuai kebutuhan.

Proses ini dilakukan secara berulang-ulang dengan ritme yang teratur hingga membentuk lembaran kain yang utuh. Setiap gerakan dalam proses menenun memerlukan koordinasi yang baik antara tangan, mata, dan konsentrasi penenun. Kerapian dan kekuatan kain sangat bergantung pada ketepatan dalam memasukkan dan merapatkan benang. Oleh karena itu, tahap ini membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan konsistensi agar menghasilkan kain yang berkualitas tinggi.

  1. Penyelesaian (Finishing)

Tahap terakhir dalam proses menenun adalah penyelesaian atau finishing. Setelah kain selesai ditenun, kain akan digulung dengan rapi menggunakan alat seperti tutuk, kemudian dilepas dari alat tenun. Selanjutnya, kain diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan tidak terdapat kesalahan, seperti benang yang lepas, motif yang tidak rapi, atau bagian yang kurang padat.

Pada tahap ini, kualitas kain menjadi perhatian utama. Kain yang telah lolos pemeriksaan akan siap digunakan, baik sebagai bahan pakaian adat, perlengkapan upacara, maupun untuk dipasarkan. Tahap finishing ini mencerminkan pentingnya evaluasi dalam setiap proses pekerjaan, yaitu memastikan bahwa hasil yang diperoleh telah memenuhi standar yang diharapkan sebelum digunakan atau disebarluaskan.

  1. Nilai Filosofis dalam Proses Menenun

Gambar 40: Kegiatan Proses Menenun

Proses menenun dalam budaya Sumbawa tidak hanya dipahami sebagai kegiatan teknis dalam menghasilkan kain, tetapi juga sebagai proses yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Setiap tahapan dalam menenun, mulai dari menyiapkan benang, mengatur alat, hingga membentuk motif, mengandung pembelajaran yang dapat membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, aktivitas menenun dapat dipandang sebagai media pendidikan budaya yang mengajarkan nilai-nilai luhur secara tidak langsung kepada generasi muda.

Salah satu nilai utama yang terkandung dalam proses menenun adalah kesabaran. Pembuatan kain tenun membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tidak dapat diselesaikan secara instan. Setiap helai benang harus disusun dengan hati-hati dan melalui tahapan yang berulang. Hal ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, hasil yang baik membutuhkan proses yang panjang dan kesabaran dalam menjalaninya. Tanpa kesabaran, hasil yang diperoleh tidak akan maksimal.

Selain itu, proses menenun juga mengajarkan ketelitian. Penenun harus mampu memperhatikan setiap detail, mulai dari susunan benang hingga pembentukan motif. Kesalahan kecil dalam proses ini dapat mempengaruhi keseluruhan hasil tenunan. Nilai ketelitian ini penting dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap tindakan yang dilakukan dengan cermat akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan berkualitas.

Nilai berikutnya adalah ketekunan. Menenun bukanlah pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan konsistensi dan kesungguhan dalam waktu yang lama. Penenun harus terus melanjutkan pekerjaannya meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Ketekunan ini mencerminkan sikap pantang menyerah dan komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Dalam kehidupan, ketekunan menjadi kunci untuk mencapai tujuan dan meraih keberhasilan.

Selain itu, menenun juga mencerminkan nilai kreativitas. Dalam proses pembuatan motif, penenun dituntut untuk memiliki imajinasi dan kemampuan untuk menciptakan pola-pola yang indah dan bermakna. Kreativitas ini tidak hanya menghasilkan karya yang estetis, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat statis, melainkan dapat berkembang melalui inovasi dan kreativitas.

Secara keseluruhan, nilai-nilai yang terkandung dalam proses menenun kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan kreativitas merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dalam budaya Sumbawa. Nilai-nilai ini tidak hanya relevan dalam konteks menenun, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman dan penghayatan terhadap proses menenun, generasi muda diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai bekal dalam membangun kepribadian yang kuat, mandiri, dan berbudaya.

  1. Perbandingan dengan Alat Tenun Modern
Aspek Gedogan Mesin Modern
Tenaga Manual Mesin
Waktu Lama Cepat
Nilai seni Tinggi Standar
Keunikan Tinggi Rendah

Tabel 1: Perbandingan alat tgedogan dan alat tenun modern

Hal ini menunjukkan bahwa tenun tradisional memiliki nilai seni dan budaya yang lebih tinggi dibandingkan produk massal.

 

Ringkasan Modul

  • Pembuatan Kre Sesek berlangsung melalui persiapan benang, menghani, pembentukan motif, penenunan, dan penyelesaian.
  • Jenis benang dan ketepatan pengaturannya menentukan kekuatan, kilau, kerapian, serta karakter kain.
  • Seluruh proses menuntut kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan kreativitas yang sekaligus menjadi nilai pendidikan budaya.